Text
Satu Hari Bukan Di Hari Minggu
Seperti halnya Sysipus yang dikutuk Zeus mendorong batu ke puncak gunung kemudian menggelinding jatuh, begitu pula dengan cerpen-cerpen Yetti ini. Usaha untuk mengakhiri cerpennya tidak pernah tuntas. Kisah yang disusun dengan narasi yang kuat, selalu dimentahkan lagi dengan akhir kisah misterius-dilematis. Selalu ada pertanyaan yang disisakan. Tampaknya, di sinilah kekuatan struktur cerpen Yetti yang menjadikannya menarik. Kisah yang disajikan bukan sebuah kisah sesungguhnya, namun sekadar preambule. Yetti hanya menulis sebuah pengantar dari kisah yang ingin disampaikan. (Eva Dwi Kurniawan, peminat sastra, Surabaya).
Yetti adalah pencerita tulen. Ia menggarap cerita tanpa beban meghadirkan konflik, tanpa upaya membuahkan impresi. Sebuah pilihan tak umum, namun mempertegas otentitasnya! (Benny Arnas, cerpenis, Lubuklinggau).
Kisah tentang keluarga, perempuan, rumah dan cinta ini terjalin dengan bahasa yang indah, penuh keintiman....Membaca kumcer ini membuat saya semakin merasa pasti bahwa sebuah rumah, sebaik atau seburuknya, tetaplah tempat untuk pulang. Kumcer ini seharusnya semakin mengukuhkan Yetti sebagai penulis perempuan Indonesia yang karyanya patut dinanti. Salut! (Falantino, seorang pengajar di salah satu perguruan tinggi.Ambon).
| P00000008S | K 807-2 | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain